05 Oktober 2008

Tulisan Profile Kompas : Mengimajinasikan Ida Arimurti

Harian Kompas Minggu menulis : Apa yang Anda bayangkan saat mendengar suara manja penyiar radio Ida Arimurti memandu acara? Barangkali seribu orang akan membayangkan seribu wajah. ”Itulah kekuatan penyiar radio, membuat pendengar berimajinasi,” sahut Ida.
Suaranya yang manja dan tawanya yang renyah menyapa pendengar radio Delta FM yang tengah berjibaku dengan kemacetan lalu lintas pada sore hari lewat acara Ida Arimurti and Friends Show. Tawa renyah Ida itu meredakan kepenatan, begitu pakar kuliner Bondan Winarno berkomentar di buku karya Ida, Renungan Ida Arimurti, yang diterbitkan Hikmah Mizan (Juli, 2008).

Senyum dan tawa yang sama itu menemani kami saat wawancara dengan Ida di Kafe 3 Degrees, Plaza FX Senayan, pekan lalu. Sadarkah Ida akan pengaruh yang menebar lewat suaranya?
”Ah…. Aku hanya berusaha mencipta suara yang bersahabat. Orang kan ingin disapa dengan akrab dan tidak digurui. Prinsipku, aku selalu menjaga hubungan dengan pendengar, kenal tidak hanya sampai di situ,” tutur Ida, sambil–lagi-lagi—tertawa. Gara-gara suara merdu Ida, pernah suatu ketika ada pendengar yang diam-diam mencintainya. Waktu itu ia masih bergabung dengan radio Prambors. ”Sampai istrinya sendiri di-cuekin. Aku tahu gara-gara istri cowok itu datang ke Prambors, lalu bertanya apa aku punya hubungan dengan suaminya, ha-ha-ha. Padahal, aku kenal aja enggak,” tuturnya. Rupanya, setiap kali mendengar suara Ida di radio, pria itu menjadi tidak mendengar istrinya bicara. Pria itu bahkan menyimpan foto Ida di dompetnya. Foto yang ia gunting dari satu majalah. ”Habis itu, gantian cowoknya yang datang ke Prambors untuk meminta maaf. Wah, sejak itu kami bertiga malah jadi bersahabat,” ucap Ida.

Cerita lain lebih unik. Ada seorang pendengar, cowok tentu saja, yang setiap hari mengirim catatan harian. Isinya tentang bagaimana ia begitu jatuh cinta kepada Ida, lantas kemudian menikah dan punya dua anak. Hubungan intim pun ia ceritakan. ”Itu semua imajinasi dia. Di catatan itu, dia bertanya, kamu kecewa ya aku enggak bisa memuaskan kamu, gila kan? Ha-ha- ha,” tutur Ida. Penggemar lain bahkan sampai datang ke radio Prambors dan terus menguntit Ida ke mana pun pergi. ”Sampai-sampai bosku menyediakan satpam untukku,” cerita Ida.
Suatu saat Ida terjebak digandrungi sesama perempuan, yang ternyata pernah juga mencintai dua penyiar di radio lain. Komunikasi hanya dilakukan lewat telepon sehingga tidak terlintas di pikiran Ida kalau orang itu perempuan. ”Kalau lagi siaran aku menyebut apel, besoknya datang buah apel, dikirim orang itu. Aku menyebut coklat, besok sudah ada coklat di kantor. Sampai aku takut menyebut benda apa pun,” kisahnya. Ida baru tahu identitas orang itu setelah temannya menyelidikinya.

Dengan banyaknya perilaku pendengar yang unik itu, Ida merasa tak terganggu. Biarkan orang mengimajinasikan apa pun, seperti ketika seorang pendengar radio pernah membayangkan Ida sebagai Desi Anwar. Di benak orang itu selalu tergambar wajah Desi Anwar begitu mendengar Ida siaran dan itu terjadi selama bertahun-tahun. ”Sampai suatu saat kami bertemu dan dia terperangah. Lho kok tidak seperti yang dibayangkan, ha-ha-ha,” tuturnya.

Mengudara selama 25 tahun
Dua puluh lima tahun sudah Ida Arimurti melakoni profesi sebagai penyiar radio. Profesi yang pada mulanya ia tertawakan karena hanya orang gila yang mau berbicara sendiri di depan mikrofon. Berbeda dengan profesi pramugari yang ia impikan, profesi yang bisa memuaskan hobi traveling-nya. ”Ternyata, kepenyiaran adalah jalan hidupku sampai saat ini,” cetusnya.
Ida mengenang perkenalannya dengan radio dan dunia kepenyiaran pada tahun 1982 sewaktu ia masih mahasiswa di Fakultas Hukum Universitas Pancasila. Ida waktu itu mengantar teman yang akan dites menjadi penyiar di radio Amigos. Saat Manajer Siaran Amigos Leo Kresnapati mendekatinya, Ida pun bertanya banyak hal tentang radio. ”Kenapa enggak mencoba jadi penyiar. Besok kamu datang dan siaran di sini,” kata Leo. Pagi berikutnya, Ida sudah resmi menjadi penyiar di Amigos. Saat itu pula ia mulai belajar bagaimana menjadi DJ, memegang peralatan studio yang dulu masih menggunakan piringan hitam dan kaset, serta belajar menjadi pewawancara yang baik. Ia juga belajar membuat naskah panduan untuk siaran.
”Booming Ida Arimurti itu antara tahun 1984 sampai 1990-an. Saat itu job buatku bejibun. Dalam setahun aku bisa ngemsi (menjadi MC) lebih dari 400 kali. Dalam sehari aku ngemsi di tiga tempat,” paparnya.

Mengapa bisa sedemikian laku, kata Ida, karena tarifnya ”murah meriah”. Ia bersedia ngemsi selama acara itu pas dengan kata hatinya, berapa pun bayarannya. ”Aku fleksibel. Dibayar Rp 300.000 juga oke, padahal tarif pasaran waktu itu Rp 1 juta. Honorku bergantung pada budget pengundang acara,” tukasnya.

Di radio Prambors, Ida dinilai sukses mengemas program ”Ida Krisna Show”, yang ia pandu bersama Krisna Purwana. Bahkan, ketika ia pindah ke Female Radio, program itu pun diangkut serta. Dari rumahnya di Jatibening, Bekasi, Ida harus siaran jam enam pagi di Plaza Bintaro, Jakarta Selatan. Ia harus bangun pukul 03.00 karena mobil jemputan sudah menunggu pukul 04.00. Dari sana, Ida meluncur ke kediaman Krisna di Cijantung sebelum melesat ke Plaza Bintaro.

Saat mengandung putranya, Kevin, Ida sempat berhenti, tetapi tidak lama karena ia tergoda tawaran Bambang Wiyogo untuk mendirikan radio yang ia beri nama Woman Radio. Ia kembali berkeputusan berhenti siaran setelah Kevin lahir, tetapi–lagi-lagi—tergoda lamaran Delta FM.
Kini, 25 tahun berlalu dan Ida masih setia cuap-cuap di depan mikrofon, di studio sempit di Jalan Sudirman, Jakarta. Mengapa demikian betah? ”Saya melakukan semua itu karena cinta. Ada yang bilang, Ida Arimurti sama dengan radio dan radio sama dengan Ida Arimurti, he-he-he,” ucap Ida. Ah, mendengarkan radio memang terbayang-bayang Ida....

4 komentar:

Andy T. mengatakan...

Selamat ya mbak Ida. Makin jaya selalu di uadara deh

Dunia TV mengatakan...

Wah, mpok ida masuk koran lagi, dah lama juga ye kite gak ngeliat mpok ida hehehe

Anonim mengatakan...

Sekarang ini Ida siaran dimana ya?

Indonesian Dreaming mengatakan...

halo ida, selamet ya